Selasa, 05 Oktober 2021

Tiang Amaf


Ruang-ruang dalam rumah dulu diberi sekat dengan kayu dan bambu lalu terjadi perubahan, rumah tanpa sekat meski tetap ada pembagian ruang. Dalam uem bubu, pertama ini disebut tiang bapak (amaf). Bapak akan duduk dan menerima tamu di tiang ini dan segala perlengkapannya seperti tas dan parang digantung di tiang ini. Ini adalah tiang yang merepresentasikan elemen tanah (afu).

 

Ume Mnasi Sun Isu

Ini adalah hasil kerja kolektif Lakoat.Kujawas merekonstruksi dalam bentuk miniatur uem bubu marga Oematan di desa Tune yang disebut sebagai klan pengawal atau ajaobe klalon ma beske klalon (pohon kasuari yang berjajar dan pohon kabesak yang bejajar seperti pagar) bersama dengan marga Sunbanu dan Tafui. Salah satu rumah adat tua yang masih dirawat dengan baik. Penjaga rumah ini kerap disapa ifo yang artinya tikus. Ifo adalah sapaan (otes) untuk perempuan marga Oematan, sementara sapaan untuk laki-laki Oematan adalah kaunan atau ular.


Ben’tapan

Ben’tapan adalah sarung parang atau sarung pisau yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau. Ben’tapan jadi salah satu perlengkapan wajib bagi laki-laki Mollo. Bagi orang Mollo, perkakas kebun seperti parang, linggis, kapak, harus diperlakukan baik dengan cara dibungkus, tidak boleh telanjang. Sebagai masyarakat agraris ini adalah bentuk hormat orang Mollo ke benda-benda yang kerap dipakai dalam setiap kebutuhan berladang. Pasangan yang selalu dibawa: bentapan, tiba, tuke, alkosu, pisau. Benda-benda ini akan digantung di tiang utama kanan depan yang disebut tiang bapak (amaf).



 

Tiba, Tuke, Kal Aob, Alkosu

Tiba’, tempat menyimpan sirih pinang, fungsinya sama dengan oko’mama. Alkosu tas dari kain tenun, semacam totebag. Kal’aob, tempat menaruh kapur. Ini adalah perlengkapan yang biasanya melekat dengan laki-laki Mollo bersama dengan parang (ben’tapan) dan feku, seruling kayu.

 



Bintang Faif Nome

Di Lakoat.Kujawas kami mengadakan lokakarya membuat motif tenun bintang setelah anak-anak diajak ikut kelas membaca langit bersama para tetua adat di desa. Temuan dari kelas itu antara lain mengenai bintang siang, bintang yang hadir mendahului terbitnya matahari, disebut faif nome atau faf ne nme (sinar atau cahata dari pangkuan bumi). Syairnya: man sam faif ne on timo sae na tut ok, faif ne on hake he man sen fin. Artinya matahari terbit menyusul terbitnya bintang siang, lalu bintang siang akan berhenti supaya matahari bisa lewat. Sudahkah kamu melihat bintang yang muncul sebelum matahari tebit? Motif faif nome adalah hasil karya Eva Mnanu, remaja dari Lakoat.Kujawas.

Di desa Fatumnasi rumah-rumah adat menghadap ke arah tenggara tempat salah satu bintang biasanya muncul jelang magrib. Maknanya kesuburan. Bintang juga bisa jadi penanda hujan. Ketika pada pukul 9 malam ada 7 bintang yang bergerak   ke bagian barat dan 3 bintang  hilang ke arah laut, disebut tamtasi—masuk ke laut. Orang Mollo menyebut bahwa tinggal 4 bintang berlari. Kemudian hilang lagi 2 bintang dari 4 tersebut, orang Mollo mengatakan bahwa akan ada curah hujan dua hari berturut-turut. Ketika semua bintang itu hilang berarti sudah masuk musim hujan.  Karena begitu pentingnya bintang maka benda langit ini pun muncul dalam kain tenun.

 

Betmuti: Ausnobe

 

Selimut laki-laki dari marga Sunbanu, salah satu marga dari wilayah Tobu - Tune yang bersama dengan Oematan dan Tafui disebut Ajaobe klalon ma beske klalon, artinya pohon kasuari dan pohon kabesak yang tumbuh berjajar seperti pagar untuk menyebut marga-marga yang mendapat tugas sebagai pengawal (yang diibaratkan seperti pohon yang berjajar rapi).

Ausnobe artinya jejak kaki anjing adalah simbol bagi amaf Sunbanu dengan malak atau simbol mirip daun keladi dengan garis-garis di tengah.

 

Muti Salak dan Feku’

Muti salak adalah kalung dari batu berwarna kuning yang berfungsi sebagai asesoris bagi laki-laki maupun perempuan Mollo. Di muti salak biasanya akan digantung feku’, alat musik tiup yang terbuat dari kayu yang akan ditiup untuk menghibur diri ketika beternak sekaligus untuk menggiring hewan ternak pulang kembali ke kandang. Bagaimana cara mengenalkan bunyi feku’ ke sapi dan kuda? Orang Mollo melatihnya dengan mengikat hewan di bawah pohon kabesak, lalu orang itu akan naik dan memotong daun kabesak yang adalah makanan favorit hewan. Sambil daunnya dilempar dari atas, mereka akan meniup feku’. Sapi makan daun kabesak dan menandai bunyi feku’. Selanjutnya ketika dengar bunyi feku’ sapi akan berbaris rapi mengikuti si peniup feku’. Ingat teori Pavlov! Tiap suku punya teknik meniup feku’ yang khas dan menjadi identitas. 

Senin, 27 Juli 2020

Dicky Senda Mewujudkan Mimpi Dari Mollo

 


KOMPAS/ARSIP ARMYN SEPTIEXAN---Dicky Senda, penggagas komunitas Lakoat.Kujawas. Kewirausahaan sosial warga Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara,Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

Dicky Senda menyakini bahwa mimpi paling baik harus dimulai dari rumah sendiri. Kini benih-benih mimpi itu tumbuh dan berkembang melalui komunitas kewirausahaan sosial Lakoat.Kujawas.

Mollo memanggilnya pulang. Demikian kecamuk di dalam pikiran Dicky Senda (33) sebelum bulat untuk menetap di kampung halamannya. Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Kawasan di lereng Gunung Mutis, yang kaya potensi alam dan kearifan lokal.


Keputusannya kontradiktif dengan realita bahwa generasi muda di sana lebih tertarik bekerja di kota atau menjadi buruh migran. Tidak heran banyak potensi alam dan kearifan lokal yang hilang. Belum lagi mata rantai perdagangan manusia tak kunjung putus.

Di sisi lain Dicky sudah punya kehidupan lain di kota. Ia merupakan salah satu sastrawan muda potensial dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan konselor pendidikan di salah satu sekolah swasta di Kota Kupang.

"Tahun 2016 saya sampai di tahap seperti jalan di tempat saja. Rasanya perlu melakukan sesuatu yang berbeda, suasana baru, dan tantangan baru. Itu semua ada di kampung (Desa Taiftob). Harus pulang dan lakukan sesuatu di sana," ujar Dicky, Selasa (21/7/2020). Tekad sudah bulat untuk pulang kampung. Pulang mewujudkan mimpi untuk mandiri di desa sendiri.

KOMPAS/ARSIP ARMYN SEPTIEXAN---Dicky Senda, penggagas komunitas Lakoat.Kujawas. Kewirausahaan sosial warga Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara,Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

Awal-awal kepulangannya ke kampung adalah untuk menulis cerpen dengan latar belakang sosial dan budaya Mollo. Sebab sebagai sastrawan ada dorongan untuk menelurkan cerpen dan puisi yang lekat dengan kampung halaman. Untuk itu mau tidak mau harus terjun ke warga untuk riset.

Riset-riset menuntunnya pada dongeng, cerita rakyat, dan falsafah hidup yang diwariskan lewat bahasa tutur dalam kesenian Mollo. Misalnya dalam tarian Bonet, leluhur mengajarkan cara bersahabat dengan alam, musim tanam, dan bersyukur kepada penguasa langit dan bumi.

Lebih jauh anak bontot itu juga menemukan berbagai kepelikan. Akses bahan bacaan anak-anak sangat minim, perdagangan orang di kampung sebagai buruh migran, dan hilangnya pangan dan kearifan lokal.

Padahal kesenian dan pertanian punya hubungan teramat erat. Bertani bukan semata kerja untuk bertahan hidup. Bertani juga memelihara kelestarian alam, seni dan budaya, membantu menghidupi banyak pihak, begitu pun sebaliknya.

KOMPAS/ARSIP LAKOAT KUJAWAS---Salah satu penenun di Mollo, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Kini semakin sedikit generasi muda yang menekuni tenun di bagian barat Pulau Timor.

Fondasi
Dari situ pemikirannya mengerucut pada dua hal dasar sebagai pondasi komunitas. Dia membangun perpustakaan warga dan kebun contoh.

Perpustakaan warga berdiri di gudang belakang rumahnya. Ada ratusan bahan bacaan koleksi pribadi sejak kuliah di Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Seiring waktu muncul tambahan bahan bacaan dari sumbangan jejaring dan warga.

Perpustakaan pun berkembang menjadi kelas-kelas kreatif, tidak sekadar pinjam atau baca buku saja. Hadir sukarelawan sebagai mentor yang mengasah kreativitas anak-anak dalam ruang kreatif seperti kelas menari, bertutur, teater, puisi, dan film. Contohnya budayawan lokal Mateos Anin, sejarawan muda yang meneliti Mollo di era pra-kolonial Sarlota Naema Sipa, novelis Okky Madasari, penulis Royan Julian, dan lainnya.

Selanjutnya pemegang KTP elektronik yang memilih petani di kolom keterangan pekerjaan menggarap potensi pertanian yang ada di Mollo. Semua dimulai dari kebun kopi milik orangtuanya yang sudah tidak terurus. "Mimpi paling baik memang harus dimulai di rumah sendiri," ujarnya.

Dua pondasi itu menarik perhatian warga, pemuka agama, dan pemerintah. Alhasil berdiri komunitas Lakoat.Kujawas. Kewirausahaan sosial agar warga berdaya dengan potensi alam dan kearifan lokalnya.

KOMPAS/ARMIN SEPTIEXAN BAKTI---Anak-anak menghabiskan waktu dengan membaca buku di perpustakaan Lakoat Kujawas di Desa Taiftob, Mollo Utara, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

Lakoat (biwa) dan kujawas (jambu) merepresentasikan kekayaan alam Mollo. Keduanya tumbuh dekat dengan memori masa kecil warga karena umumnya ada di setiap kebun. Lakoat.Kujawas dibingkai dengan tenun motif belah ketupat. Itu sebagai pemacu semangat gotong royong, kolaborasi, dan konektivitas dari generasi ke generasi.

Komunitas
Empat tahun sudah kewirausahaan sosial itu bergerak. Fokusnya di bidang pendidikan (literasi), ekonomi kreatif (ekowisata, rumah penginapan, dan toko daring produk lokal), ruang diskusi, kelas kreatif, dan pementasan budaya. Berbagai aktivitas dan hasil karya mereka dapat ditengok melalui Instagram @lakoat.kujawas dan lkjws.co maupun Twitter @lakoatkujawas.

Bukan perjalanan yang mudah tanpa pengalaman dan dukungan dari banyak pihak. Dicky, misalnya, belajar dari pengalaman residensi di Bumi Pemuda Rahayu Yogyakarta dan Asean Japan Residency di Kampung Muara. Belajar dan berdiskusi dengan kawan-kawan di Katakerja atau Rumah Sanur, Jock Fairweather pendiri Little Tokyo di Brisbane serta melihat semangat berwirausaha dari kawan-kawan Sekolah Musa dan Geng Motor Imut di Kupang.

Belum lagi dukungan orangtua di Desa Taiftob. Mereka secara sukarela membantu pengarsipan dan dokumentasi pangan dan kearifan lokal untuk bekal generasi muda. Harapannya satu, Lakoat.Kujawas bisa menjadi pusat informasi dan riset mengenai sejarah, kesenian dan kebudayaan Mollo.

Dicky Senda

Pekerjaan: Pegiat komunitas Lakoat.Kujawas, Sastrawan

Lahir : Mollo Utara, TTS, NTT, 22 Desember 1986

Pendidikan : Jurusan Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Pengalaman :
Pembicara di Bincang-Bincang Walacea Week, digagas oleh British Council Indonesia - 27 November 2019
Pembicara di Ideafest 2019, sesi Active Citizens: why every country needs Active Citizens? Kolaborasi dengan
British Council Indonesia - 5 Oktober 2019
Pembicara di Ubud Food Festival 2018. 13 -15 April 2018
Pembicara Ubud Writers and Readers Festival 2017: Main Program: Preserving Culture, Festival Club: The Heart of
Partisipan dan pembicara di Bienale Sastra Salihara. 23-24 Oktober 2015

Karya tulis :
Sai Rai (Grasindo, 2017)
Kanuku Leon (Grasindo,2018)
Hau Kamelin & Tuan Kamlasi (Grasindo, 2018)
The Near and the Far, Vol 2, Anthology of
Asia Pasific Writers. Penerbit : Scribe  Australia

Oleh  FRANSISKUS WISNU WARDHANA DANY

Editor:  ANDY RIZA HIDAYAT

Sumber: Kompas, 27 Juli 2020

Sabtu, 20 Juni 2020

Dicky Senda Merawat dan Merevitalisasi Tradisi Sumber

Bagus Pradana

Artikel ini dimuat di koran Media Indonesia kolom Humaniora/Punggawa Bumi edisi 20 Juni 2020


KEINDAHAN alam di wilayah Gunung Mutis, gunung tertinggi di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, begitu memesona. Sabana, padang rumput tropis yang menghampar di sela-sela kaki gunung, menggugah hati para pelancong yang menginjakkan kaki di tanah ‘Mollo’. ‘Mollo’ ialah nama dari kawasan adat yang melingkupi di sekitaran Gunung Mutis. Wilayah asri tersebut telah sejak lama dijaga oleh suku Mollo yang secara turun-temurun memegang prinsip-prinsip ekologi tradisional. Namun, di balik keelokannya, terdapat narasi sendu yang selalu dikeluhkan oleh orang-orang tua di seputaran kaki gunung ini karena para pemudanya justru memilih hengkang ke kota. Meski kawasan Mollo terkenal sebagai salah satu daerah subur di Pulau Timor, tetap saja seluruh potensi tersebut kurang begitu menarik bagi mayoritas pemuda yang lahir di sana. Inilah yang mengundang keprihatinan Dicky Senda. Putra daerah, yang sempat berkelana ke sejumlah kota besar di Indonesia ini, akhirnya pada 2011 memutuskan kembali ke dan menetap di kampung halamannya di Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara, Timor Tengah Utara. 

Sebelumnya, pemuda yang menyukai sastra ini menenempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Di desanya ini, ia menggagas komunitas Lakoat Kujawas, sebuah komunitas kewirausahaan sosial yang bertujuan mengeksplorasi kearifan budaya setempat. Menurut cerita Dicky, awalnya komunitas ini digagas oleh beberapa anak muda Mollo yang baru pulang kampung. Namun, dalam perjalanannya, mereka juga mulai merangkul orang-orang lintas generasi, dari mulai anak-anak hingga para tetua di Mollo.  

“Kami menyebut diri kami sebagai komunitas warga,” papar Dicky kepada Media Indonesia, pekan lalu, Nama komunitas yang berdiri pada 2016 ini, menurut Dicky, berasal dari nama dua buah yang tumbuh subur di kawasan Mollo, yaitu buah lakoat (biwa) dan buah kujawas (jambu biji). Dua buah yang ia gambarkan menemani masa kecil anak-anak Mollo, yang kemudian menjadi representasi dari harapan dan impian mereka untuk merevitalisasi kembali prinsip-prinsip ekologi budaya di tanah Mollo. 

“Awalnya saya pulang kampung itu untuk riset terkait novel saya karena saya waktu itu sedang menggarap satu naskah novel dan saya pulang untuk mencari inspirasi. Namun, dalam perjalanan pulang kampung itu saya menemukan beberapa potensi yang menurut saya bisa dikembangkan,” jelas Dicky. Pengarsipan Salah satu yang menjadi perhatian Dicky dkk ialah masalah pangan. Dian dan rekan-rekannya lantas mengajak masyarakat di kampung halamannya menghidupkan kembali tradisi-tradisi masyarakat Mollo, termasuk di bidang pertanian. 

“Masyarakat Mollo itu memiliki tradisi yang berakar pada konsepkonsep ekologi secara turun-temurun sehingga wajar jika interaksi sosial mereka selalu selaras dengan alam. Namun, ada masalah di sini karena banyak generasi muda Molo yang memilih merantau ke kotakota basar di Jawa, akhirnya banyak tradisi mereka yang hilang. Itulah mengapa melalui Lakoat Kujawas ini saya mulai melakukan kerja-kerja pengarsipan dan pendokumentasian terhadap tradisi masyarakat Mollo ini,” terang sastrawan muda kelahiran 22 Desember 1986 ini. 

Perlahan-lahan Dicky dkk merevitalisasi beberapa tradisi kampung yang sudah jarang dipraktikan lagi, seperti cara mengolah pangan lokal, cara bercocok tanam, hingga seluk-beluk khazanah kuliner lokal yang menjadi produk akhir dari tradisi masyarakat di lereng Gunung Mutis ini. Dicky dkk pun mulai bertanya kepada orang-orang tua di kampung, mengumpulkan lagi resep-resep masakan tradisional serta cara mengolahnya, dan berbagai narasi cerita yang berkaitan dengan makanan tersebut. Dari usaha pengarsipan itu, komunitas ini berhasil menemukan sekitar 80 jenis makanan dan minuman tradisional asli Mollo. 

“Sebagian besar makanan dan minuman itu sudah tidak ada lagi di meja makannya orang-orang Mollo saat ini. Mungkin kebanyakan bahan bakunya sudah tidak ada lagi atau kalau toh ada masyarakat sudah tidak tahu lagi cara mengolahnya, ada pengetahuan yang terputus di sini,” tukas pengarang yang pernah menerbitkan Kumpulan Cerpen: Kanuku Leon (2013) tersebut. Pengembangan metode pertanian tradisional juga menjadi salah satu program yang sedang diupayakan Dicky dkk. Mereka berusaha menyemai kembali benih-benih lokal yang sudah jarang ditanam di Mollo, serta mengolahnya dengan tata cara pertanian yang rujukannya berasal dari tradisi setempat. Untuk diketahui, masyarakat Mollo bertani dengan sistem ladang berpindah. Mereka akan membuka ladang baru saat musim tanam tiba. Model perladangannya pun menarik, yaitu perladangan tadah hujan yang bergantung dengan dua periode musim hujan, yang mereka sebut musim hujan barat yang biasanya dimulai pada bulan Desember hingga pertengahan Maret dan musim hujan timur yang curah  hujannya tidak setinggi musim sebelumnya, yaitu pada Mei hingga Agustus. 

“Dari belajar bertani ini kami akhirnya tahu bahwa ternyata masyarakat Mollo juga memiliki kemampuan beradaptasi dengan anomali cuaca di Timor yang cukup ekstrem, yaitu kemarau panjang. Setelah musim tanam berakhir, biasanya masyarakat akan bersiap untuk menghadapi kemarau panjang dengan menyimpan hasil panen yang telah diawetkan dan selama kemarau panjang ini mereka biasanya hanya bergantung pada bahan makanan yang telah diawetkan, dikeringkan, dan difermentasi yang mereka simpan di lumbung,” jelas penulis yang pernah mengikuti program residensi di Melbourne Writers Festival 2018. 

Dicky bersama komunitasnya kini kembai memproduksi penganan lokal tersebut. Sebagian besar produk-produk dari komunitas ini ialah produk musiman, yang biasanya telah dipesan terlebih dahulu oleh para pelanggan. Dalam setiap produknya, Dicky kerap menyelipkan beberapa informasi yang berisi edukasi terkait lingkungan hidup. “Komunitas kami mengarah ke social enterprise (kewirausahaan sosial). Jadi, memang kegiatan produksi yang kami kembangkan itu akan selalu melibatkan warga. Selain sebagai upaya pemberdayaan, hal tersebut juga sejalan dengan tujuan kami, yaitu mengembalikan prinsip-prinsip ekologi tradisi yang telah turun temurun diimani oleh masyarakat Mollo,” pungkas Dicky. (M-4)

Sabtu, 11 Agustus 2018

Sekaleng Sprite Untuk Adi dan Kisah Perjalanan Manis Lainnya

Seri III
Ia kerap memanggilku ‘Adi’. Semacam sebuah nama kesayangan di rumah. Tidak banyak yang tahu, hanya kami berdua. Atau tidak banyak ia pergunakan, hanya ketika kami berdua sendirian. Atau ia gunakan ketika ingin merayu keras kepalaku. Keras kepala yang kuwarisi dari ibu.
Kami kerap pergi ke Kupang bersama. Menggunakan bus dari kampung. Di Kupang kami akan menginap di rumah kerabat ibu di Perumnas atau di kosan keponakannya yang bekerja di kantor pos. Aku akan sangat senang ketika ia membelikanku sekaleng sprite sebab kusuka reaksi seselesainya meneguk sprite. Doak atau sendawa. Rasa geli yang menyenangkan.
Beberapa kali ia mengajak kami pergi ke kampungnya di Flores menggunakan ferry penyebrangan dari Bolok di Kupang menuju Larantuka. Dari Larantuka kami harus menempuh perjalanan darat lagi ke Maumere, mampir ke rumah kakaknya di Paga lalu akan mendaki lagi ke kampung kecilnya di dekat situs kubur batu Nuabari. Nama kampung itu Seroara. Aku punya banyak sekali memori manis tentang perjalanan menggunakan bus atau ferry bersamanya.
Ketika aku hendak bersekolah di Ende, ia mengantarku. Kami menggunakan kapal dari pelabuhan Tenau Kupang menuju Ende dengan singgah sebentar di Sabu. Aku ingat betul ia begitu bersemangat menyekolahkanku ke salah satu sekolah terbaik di Flores yang dikelola oleh para misionaris SVD. Ia tahu, dulu ia tidak punya banyak kesempatan untuk menjangkau fasilitas pendidikan yang baik. Aku melihat ia menyimpan segepok uang tunai dibalik saku jaket yang hampir tidak pernah ia lepaskan selama perjalanan. Ia belum punya rekening di bank, apalagi punya kartu ATM. Aku terlalu was-was ketika melihatnya menyiapkan segala sesuatu dengan sangat rapi namun bawaan kami begitu banyak sekali. Ia bahkan membawa serta kaset rekaman acara tahbisan anaknya yang seorang imam Katolik. Ingin ia tunjukkan ke keluarganya di Flores. Ia terlalu detail untuk menyiapkan segala sesuatu. Tapi aku tetap saja was-was. Rasa janggal yang akhirnya membuatku terus mempersalahkan diriku sendiri. Aku melihat seseorang mengambil dompet dari saku celananya dan aku diam saja. Malam itu pelabuhan begitu ramai. Aku tidak terlalu bersemangat, sebab perjalanan ini sama artinya aku harus pergi jauh darinya dan ibu.
Kami tiba di pelabuhan lama Ende, dekat taman dan pohon sukun tempat dulu Soekarno merenung tentang Pancasila. Gunung Meja dan Wongge begitu pekat menyambut, ditingkah kerlap-kerlip lampu pelabuhan dan serbuan cahaya dari seantero kota kecil dengan teluk yang indah. Waktu masih terlalu dini untuk menerka-nerka apa yang terjadi dengan kehidupanku di tanah ini. Diam-diam aku mengambil tanah berpasir di parkiran angkot dan menciumnya. Para supir dan konjak merampas hampir semua barang bawaan kami, menarik dan mengulur. Ayah masih sedih sebab dompetnya hilang bersama sejumlah kartu penting dan beberapa lembar uang. Aku tidak bisa berpikir apa lagi. Bau kapal dan gambar tentang kecoa masih menghantuiku.
Kami akhirnya mendapat angkot dengan tujuan rumah om dan tante, kerabat dekat yang pernah ia urusi pernikahan mereka ketika masih sama-sama tinggal di SoE. Mereka yang kemudian menjadi orang tua waliku. Tiba di rumah dengan sebuah pohon mangga di depan dan sebuah pohon rambutan hampir mati di halaman belakang, rumah yang menurut para penghuninya kerap diserang kawanan suanggi. “Kau harus berhati-hati,” bisik tante.
Ketika meminum teh panas, kami akhirnya sadar bahwa sebuah dus dan sebuah tas hilang. Aku kian lemas. Perjalanan bersamanya memang tidak selalu menyenangkan.
Lantas apa yang menyenangkan?
Aku senang ia membelikanku sekaleng sprite dan membelai kepalaku ketika aku telah lelah dan mengantuk di bus. Dari wajahnya kulihat ada perasaan bangga bagaimana ia merasa telah sukses membesarkan keluarga yang besar di tanah rantau dan sesekali mengajak keluarganya pulang ke kampung. Aku melihat itu dari sorot matanya. Aku senang ketika kami tiba di Maumere dan ia mengajak aku keliling pertokoan. Kami akan mampir ke toko Kuda Mas dan ia mempersilakanku memilih baju dan celana yang kusuka. Ia akan selalu senang mengajak anak-anaknya berjalan kaki. Ia senang dan tidak banyak bicara. Ia senang dan berbicara melalui sorot matanya.
Aku selalu rindu dipanggil ‘Adi’, ketika kami berdua sendiri melakukan sebuah perjalanan. Hari ini aku menulis cerita ini, setelah dua belas jam sebelumnya, aku bertemu dengannya di pembaringan yang begitu bisu. Ia sedang pilek keras dan tiduran saja. Ada setumpuk buku bacaan di atas meja di sebelah tempat tidur. Kupang begitu terik hari-hari ini.
Aku mengambil tisu dan melap hidungnya yang basah. “Ada kegiatan hari ini?” Ia bertanya. Aku mengangguk. Wajahnya kian segar dan badannya kembali berisi. Ini tahun yang tidak gampang setelah ia akhirnya tidak bisa lagi mengayunkan langkahnya yang panjang-panjang akibat stroke di badan sisi kiri. Tapi kuharap masih bisa. Bisa memanggilku ‘Adi’ saat kami bepergian lagi naik bus dan ferry menuju ke Flores atau pulang ke Kapan.
Aku ingin memeluknya, meski malam ini, saat menulis cerita ini aku sudah kembali ke Kapan. Sementara ia masih harus tinggal di Kupang untuk serangkaian fibsioterapi.
Ayah, aku mau sekaleng sprite.

2018

Baca juga catatan seri II: Polisi Baik atau Jahat?

Jumat, 10 Agustus 2018

Polisi Baik atau Jahat?


Seri 2

Hari ini aku bangun di jam yang sama seperti hari kemarin. Pergi ke dapur, menjerang air dan memberi  babi makan paginya. Ini hari Kamis, waktunya ke pasar menemui petani dan penenun langganan. Setahun terakhir aku juga sedang mendokumentasikan jenis bahan pangan apa yang ada di pasar Kapan sepanjang tahun. Ini bagian dari caraku mengidentifikasi dan membuat peta terkait keragaman hasil pertanian di Mollo. Pekerjaan tak penting bagi sebagian orang, tapi aku menikmatinya. Aku suka pergi ke pasar, menyalakan rekorder dan diam-diam merekam percakapan orang-orang Mollo di pasar. Aku suka aksen atau logat orang Mollo ketika berbicara. Mereka seperti sedang bernyanyi.

Tapi aku harus menulis tentang ayah ibuku berdasarkan memori masa kanakku. Apa yang harus aku ingat, aku buka duluan?
Masa kecil. Selalu mengekor kemanapun ibu pergi. Ke arisan. Latihan nyanyi bersama kelompok paduan suara Pelita. Pergi mengunjungi nenek  dan kakek seminggu sekali. Pergi bersama ayah ke sawah di Manesat Anen setiap musim liburan, bertiga naik motor trail ayah melewati jalan curam Kualeu.

Aku anak bungsu dari delapan bersaudara. Kakakku nomor 6 meninggal dunia ketika masih kecil, jadilah kami tujuh bersaudara. Tanggal 25 Agustus 1968, ayah dan ibuku menikah di gereja Katolik di Kapan yang kala itu baru setahun berdiri. Tentang kisah ini aku sebenarnya punya niat lebih untuk mewawancarai ayah dan ibu, lalu menuliskannya dalam sebuah buku. Mungkin catatan berseri ini bisa menjadi sebuah pintu masuk yang baik. Di grup whatapp keluarga, kami sudah sering membicarakan hal ini. Seorang keponakanku ditugaskan untuk melakukannya, entah sudah dimulai atau belum.

Ayah dan ibu diberkati di gereja Katolik, meski kemudian mereka tetap memeluk agamanya masing-masing. Pilihan itu aku duga datang dari betapa keras kepalanya kakek dari pihak ibu. Tapi seumur hidupku, aku melihat sendiri bagaimana ayah begitu setia mendampingi ibu, begitu hormat kepada ayah dan ibu mertuanya, menyayangi dan mengurus mereka hingga napas terakhir. Suatu ketika ayah pernah bilang kepadaku: tidak ada prinsip balas budi dalam hidupnya. Berbuat baik ya berbuat baik saja. Sebagai manusia itu tugas kita. Diam-diam aku juga penasaran apakah semasa bertugas sebagai polisi, ia adalah polisi yang baik dan jujur seperti yang ia tunjukkan kepada kami di rumah? Aku seringkali muak dengan sistem dan orang-orang dalam keplisian di negara ini. Dan aku terus bertanya dalam diam, apakah ayahku dulu seorang yang jahat? Ataukah ia orang baik? Aku pernah dengar pengakuan beberapa orang kampung bahwa ‘kami dulu paling takut Naef Senda. Dia terlalu jahat!”

Dulu ada beberapa peluru kosong disimpan ayah di lemari. Karena penasaran, aku mengambilnya dan mengajak ayah untuk menceritakan tentang peluru-peluru itu. Yang kuingat, kisah memburu kawanan pencuri (teku) dengan kuda dan menembakkan pistol ke kaki para pencuri. Aku terpana. Ayahku kubayangkan sebagai koboi dalam sebuah film aksi. Tapi apakah sebagai polisi ia tetap menjadi orang baik seperti halnya kami melihat ia di rumah?

“Setiap gajian ayahmu akan membeli tembakau timbang di para saudagar Cina di Soe atau Niki-Niki. Saat itu banyak sekali kasus criminal, terutama pencurian. Ayahmu terus mete mengerjakan laporan dan lintingan rokok ‘tembakau sek’ adalah teman baiknya.” Efeknya baru kelihatan puluhan tahun kemudian, ketika ayah terkena stroke dan melakukan pemeriksaan laboratorium sebelum operasi. Dokter menemukan beberapa flek di paru-parunya, tandamata dari ‘tembakau sek’ puluhan tahun silam.

 Ibu hanya pernah bilang bahwa suatu ketika ayah memutuskan berhenti minum alkohol dan berhenti merokok. Tapi aku belum lahir. Aku memang tidak pernah melihat ayah merokok. Aku hanya ingat ia pernah berkumis kemudian mencukur semua kumisnya.  Malah kakakku yang seorang calon pastor yang memilih memelihara kumis kala di seminari. Belakangan ada kakakku yang lain, seorang brimob dan satunya seorang polisi pamong praja, keduanya sama memelihara kumis dan itu membuatku geli dalam hati. Tapi apakah dengan berkumis atau tidak, merokok dan minum alkohol atau tidak sama sekali, dulu ayah adalah seorang polisi yang baik atau jahat?

Lantas apa yang kau ingat dari ayahmu di usia tujuh tahun?

Gigiku membusuk dan sakitnya minta ampun. Ayah lantas mengambil kapas, mencelupkannya ke dalam minyak kelapa, membakar sedikit ke api lalu memasukkannya ke dalam lubang gigiku. Seketika sakit di mulutku menghilang. Gigiku kemudian tumbuh dengan sangat tidak rapi. Membesar dan tak beraturan bentuknya seperti gigi ayah.
Tapi rambut kami berbeda. Rambutku lurus seperti rambut ibu. Tapi soal rambutku, ayahlah yang paling bertanggungjawab hingga aku kelas 6 SD. Setiap tiga pekan atau sebulan di depan dapur atau di kebun belakang rumah dengan cepat ia memangkas rambutku. Aku tentu tak punya pilihan model rambut. Baginya potongan ala militer adalah yang terbaik: semua area di kepala super tipis, kecuali area ubun-ubun yang tiba-tiba saja menyembul rambut pendek-tapi-gemuk. Ia selalu punya banyak stok silet London Bridge dengan gambar jembatan untuk menggaris pinggiran rambut. London Bridge yang kelak bisa kulihat langsung ketika mendapat beasiswa belajar kewirausahaan sosial dua pekan di UK.

“Kau punya bulu kode ni banyak sekali!” Begitu protesnya. Bulu kode adalah rambut halus di area bawah dan belakang layar telingga mendekati leher yang biasanya baru ketahuan keberadaanya ketika kain penutup badan telah dilepas. Ia menggaruk bersih semua bulu kode, sambil kuperhatikan ekspresinya dari cermin kecil di depanku.
Ia orang baik, tapi apakah sebagai polisi dulu ia jahat?

#50TahunBapatuaMamatua #24HariNgeblog

Baca juga: Cinta Pertama dan Mimpi-Mimpi Buruk