Minggu, 30 Oktober 2016

Sisi Lain


Ketika hati ingin memulai, lepaskanlah
Agar jiwa yang bebas mencari sisinya sendiri
Jembatan memang menghubungkan
Hanya siapa yang ingin memulainya duluan?
Setiap ziarah barangkali akan meneduhkan
Namun saudara dibutuhkan dalam perjalanan ini
Sejarah, atau apapun itu
Sekeping saja
Tersusun atas banyak warna
Karena memilih untuk memulai sebuah perjalanan menuju sukacita
Harusnya dimaknai sebagai terang dan garam
Jiwa-jiwa muda tahu betul di sebelah mana mimpi ini harus disimpan
Dijaga
Dan digelorakan
Kaukah kawan perjalanan?

***
            Jujur saja saya menolak ikut kegiatan ini ketika ditawarkan pastor paroki. Saya merasa diri ini sudah terlalu tua di OMK dan kesempatan baik seperti ini harusnya diberikan ke teman-teman yang lebih muda. Sayangnya rentang usia anggota OMK di paroki saya terlalu jauh. Sedikit saja OMK seperti saya yang sudah bekerja dan banyaaaak sekali OMK dengan status pelajar. Kegiatan seperti IYD yang memakan waktu lebih dari seminggu rasanya sulit untuk melibatkan mereka yang masih berstatus pelajar. Oke, akhirnya saya bersedia untuk ikut. Meski dengan sedikit motivasi apalagi ekspektasi.
            Sebagai penulis, saya punya beberapa pengalaman mengikuti festival sastra, residensi kesenian, atau forum-forum kepemudaan (youth leader forum) yang memakan waktu seminggu bahkan hingga dua atau tiga bulan. Persis dengan konsep IYD, bertemu banyak orang muda, dengan mimpi dan semangat besar, tinggal bersama dan diskusi, membuat project bersama yang punya dampak sosial. Kesadaran ini lantas mulai menumbuhkan motivasi ikut IYD dan punya beberapa ekspektasi terhadap kegiatan ini. Jika sebelumnya kegiatan yang saya ikuti terkait dengan literasi, kebudayaan, seni dan kewirausahaan sosial, maka kali ini sedikit spesial: berkegiatan bersama sesama orang muda seiman. Diam-diam saya merindukan itu.
            Saya teringat dua pesan kakak saya, katanya begini: "Kamu diberi lebih dari satu talenta, maka dari kamu juga akan dituntut lebih." Sebelumnya saya banyak aktif dibeberapa komunitas anak muda di Kupang. Ikut membangun komunitas anak muda dan mendukung setiap kerja kolaborasi kaum muda di NTT yang memilih untuk bergerak di jalan kesenian, ekonomi kreatif dan kewirausahaan sosial. Namun di sisi lain saya merasa belum punya pengalaman bagaimana talenta yang saya punya ini bisa berkontribusi bagi perkembangan iman gereja Katolik.
Pesan kedua dari kakak saya, "Kamu sudah terlalu banyak meminta Tuhan mendengarkanmu ketika berdoa. Tuhan saya mau ini, saya ingin begitu, kok saya begini ya Tuhan? Tapi pernahkah kau duduk diam dan mendengar Tuhan berbicara lewat Injilnya?"
Saya menulis buku dan membaca banyak literatur, tapi kitab suci jarang sekali saya baca. Saya terlalu banyak meminta kepada Tuhan, tetapi jarang sekali saya mendengarkan Tuhan berbicara lewat kitab suci. Maka, momen IYD dengan tema 'merayakan sukacita Injil', saya merasa ini saatnya saya mendekatkan diri dan mendengar sabdaNya dengan sukacita. Saatnya talenta yang sudah Ia berikan itu saya balas dengan tekun mendengar kabar sukacita dariNya dan ikut mengambil bagian dalam pewartaan dan pengembangan iman kaum saya, orang-orang muda Katolik. Saya semakin tidak sabar untuk tiba di Manado, bertemu dengan lebih banyak orang muda, yang punya semangat dan mimpi besar untuk jadi agen perubahan dalam Gereja dan bangsa ini. Sebab kata Paus Fransiskus, orang muda seperti saya ini bukan lagi masa depan Gereja, melainkan masa kini Gereja.
Sudah saatnya berbuat sesuatu.
            Saya bersyukur ini adalah kesempatan pertama saya menginjakkan kaki di tanah Minahasa. Di tanah yang kaya akan hasil laut dan pertanian, saya mendapati sukacita Injil dalam keberagaman itu sungguh menjelma nyata dalam keseharian saudara-saudara saya, umat Katolik di Minahasa. Sukacita injil bukan karena kebetulan ada acara besar Indonesian Youth Day 2016 yang mengusung tema yang sama. Orang Katolik Manado dalam pandangan pribadi saya, hidup dalam kelekatan sukacita injil. Hal itu mengakar kuat dalam tradisi atau kebudayaan mereka, bagaimana dalam persekutuan injil mereka bekerja keras untuk menghidupi diri sendiri dan orang lain. Pertama kali tiba di paroki tempat kami live in, paroki Maria Ratu Para Rasul di daerah Manembo-nembo, kota Bitung, saya mendapati orang-orang mengabdikan dirinya untuk Tuhan dan sesama dalam persatuan Gereja. Dengan antusias mereka datang berkumpul di aula paroki, saling bekerjasama, berdoa, menyiapkan perjamuan makan bersama, dengan hangat memeluk dan membukakan pintu rumah bagi tamu baru dari belahan selatan Indonesia: orang-orang muda Katolik dari Keuskupan Agung Kupang. Tak ada yang saling mengenal sebelumnya. Bahasanya jelas dan mempersatukan: kita adalah saudara dalam Kristus. Sungguh, saya tidak berlebihan menulis ini. Pada titik ini, saya berefleksi bahwa kebahagiaan dan sukacita itu bukan soal materi yang melimpah, atau bungkusan-bungkusan yang terlampau mewah dan mengilat. Tidak. Di aula bekas Gereja tua, udara panas tak menyurutkan orang-orang untuk tertawa, saling kelakar, melempar senyum tulus, berbagi tisu untuk menyeka keringat, bahkan menyanyi dan menari bersama yel-yel Keuskupan Agung Kupang yang.... oh Tuhan, apakah kita sudah pernah berkenalan seribu tahun lamanya sampai-sampai semua ini terjalin begitu cair?


Smokol bukan Pamokol
Saya menutup hari itu di rumah nan sederhana milik keluarga Albakir, di wilayah rohani (sebutan lain untuk Kelompok Umat Basis-KUB) Santa Elisabeth, stasi Hati Kudus Yesus Watudambo. Inez, sang koordinator OMK setempat yang masih berdarah Sumba mengatur semuanya dengan sangat baik.
            Bapa Albakir berasal dari Gorontalo, masuk Katolik ketika menikah dengan Mama Lenci Rotty. Di Watudambo, keluarga besar Rotty adalah umat Katolik perdana. Saya berkesempatan mendengar kisah tentang Bapa Yefta Rotty sang perintis Gereja Katolik di Watudambo berpuluh-puluh tahun lalu. Ketika beliau berhasil mengumpulkan 5 orang Katolik dan berniat melaporkannya ke Bapa Uskup di Manado supaya mendapat pelayanan dari Gereja, toh beliau masih ditantang Bapa Uskup, “kau harus mencari dua orang lagi.” Tujuh pada akhirnya bukan lagi soal angka ganjil tapi genaplah ia sebagai sebuah persekutuan iman yang baru. Bapa Rotty mendirikan sekolah dasar Katolik yang mengingatkan saya akan apa yang juga dilakukan bapa AFK Oematan (Ba’i Klerek) di awal paroki Santa Maria Immaculata Kapan berdiri. Kini umat Katolik di Watudambo telah mencapai angka 200 lebih kepala keluarga. Seorang menantu bapa Yefta Rotty menceritakan kisah ini kepada saya dengan rasa haru dan bangga yang menyala-nyala dalam sebuah kesempatan smokol bubur Manado (tinutuan) di kediamannya.
Smokol perdana di rumah mama Lenci waktu itu adalah nasi kuning dengan abon ikan tuna yang sangat pedas. Bukan orang Manado namanya kalau dalam setiap masakan mereka tidak diberi cabai. Saat itu untuk pertama kalinya saya tahu apa itu smokol ketika sedang makan bersama di teras rumah dan beberapa tetangga mampir karena mendengar ada tamu jauh di lingkungan mereka. Dan saya baru sadar bahwa kebiasaan menikmati sarapan (smokol) di teras rumah adalah sebuah tradisi yang hidup. Hampir di setiap rumah, meja dan kursi ditempatkan di teras rumah untuk acara smokol atau sekadar mengobrol santai dengan tamu sambil minum teh. Dan uniknya, setiap orang yang lewat akan ditegur/diajak. “Mari smokol jo.” Begitu sapaan yang akan kita jumpai ketika pagi hari melewati rumah tetangga. Pengalaman ini akhirnya memperkuat persepsi awal saya di hari sebelumnya ketika ikut perjamuan bersama umat di Manembo-nembo. Orang Manado adalah pribadi yang terbuka dan bersahabat. Dan bahwa peristiwa makan bersama adalah bagian tak terpisahkan dari sebuah upaya membangi sukacita kepada sesama. Dengan begitu meriahnya peristiwa makan bersama, meja dengan berpuluh-puluh menu pada akhirnya tak lagi terlihat sebagai “makan porsi gunung Mutis” namun sudah menjadi “hidup untuk berbagi, hidup untuk dinikmati bersama”. Perjamuan makan bersama bukan lagi soal kuantitas tapi soal kualitas. Tolong koreksi jika persepsi saya tentang kebudayaan orang Minahasa ini barangkali masih keliru.
Dari peristiwa smokol itu, keluarga Albakir mengenal saya lebih jauh dan sebaliknya saya pun dibukakan pintu untuk masuk ke dalam ruang pribadi mereka.
“Kami orang Manado begini, Dicky. Apa adanya, tidak suka tutup-tutupi. Baik dan buruk dari diri kami, ya beginilah kami. Jadi jangan kaget ya...” Elvan anak ketiga mama Lenci mengingatkan saya. Keluarga ini hebat. Mama Lenci cerita tentang masa lalu yang sangat sulit. Bekerja keras adalah pilihan yang mau tidak mau harus diambil. Bapa Albakir yang pendiam mengisi harinya sebagai buruh tani di perkebunan milik orang lain.
“Tanam milu (jagung) sehari dibayar Rp.100.000.” Jelas mama Lenci. “Saya sendiri dulu sempat kerja di rumah orang. Ya bagaimana, saya harus dukung suami besarkan lima orang anak. Apa saja kami kerjakan yang penting halal dan bisa tambah-tambah untuk sambung hidup.” Beliau lantas menumpahkan rasa bangga setelah kini mulai memetik buah dari kerja keras dan devosinya kepada Bunda Maria selama ini. Dua anak sudah menikah dan membangun kehidupannya masing-masing. Elvan dan adiknya Alicia menempuh kuliah sembari bekerja. Elvan yang cerdas dan pekerja keras bahkan didaulat sebagai asisten dosen sekaligus staf di kampus tempat ia kuliah. Ia kini mulai banyak mengambil peran baru sebagai penopang ekonomi keluarga. Membantu membiayai kuliah Alicia dan Jonatan adik bungsunya yang masih SMP. Tinggal di Watudambo, mata saya dibukakan untuk melihat kondisi yang menurut saya luar biasa. Kebanyakan orang muda Katolik di Watudambo sudah aktif bekerja saat duduk di bangku sekolah atau kuliah. Sejak belia orang-orang sudah dibentuk untuk bekerja keras, untuk menghidupi diri sendiri dan orang-orang di sekitar.
Seluruh pengalaman hidup bersama keluarga Albakir membawa saya pada satu pepatah orang Manado, Si Tou Timou Tumou Tou. Hidup untuk menghidupi orang lain. Keluarga Albakir hidup untuk saling mendukung satu sama lain, hidup untuk membuka diri dengan tetangga bahkan untuk hal paling sederhana, “mari smokol jo,” kepada siapa saja yang lewat. Bekerja keras pada akhirnya bukan untuk memegahkan diri sendiri. Bekerja keras pada intinya untuk bersukacita bersama, hidup dan menghidupi sesama.
Ketika selesai smokol, saya tiba-tiba ingat kata pamokol. Kata yang amat kasar sebenanrya bagi orang Timor. Kata yang sama sekali jauh dari kesan dan persepsi yang sudah ditulis panjang lebar di atas.


Klik!
Ketika berusaha untuk memulai tulisan ini, saya sengaja mengambil tempat duduk di teras dapur yang menghadap ke kebun kopi. Saya membayangkan kebun pala dan jagung di Watudambo. Saya coba buka lagi foto-foto dan video selama IYD berlangsung di Manado. Saya ingin meresapi setiap momen yang berhasil saya bidik dari kamera handpone atau berusaha menyerap energi yang mungkin masih tersisa dari video klip theme song ‘Sukacita Injil’. Barangkali pengalaman yang saya dapat ini agak melenceng dari espektasi saya sebelumnya yang ingin ketemu dengan banyak orang muda Katolik dengan passion atau mimpi yang sama di bidang kesenian, literasi atau social enterprise. Saya memang tidak menemukan itu di IYD kali ini. Di sesi seminar, saya dimasukkan ke sesi diskusi tentang OMK dan Politik. Tapi sungguh saya mau bilang bahwa pengalaman live in jauh lebih kaya dan itu membanggakan. Lantas bagaimana mungkin pengalaman live in yang hanya 4 hari bisa meninggalkan kesan yang begitu kuat? Alasannya mirip, kliknya satu: bahasa kita sama yakni bahasa kasih. Roh dan jiwa kita satu yakni iman Katolik. Pelengkapnya, barangkali soal kesamaan budaya. Mulai dari bahasa Melayu Manado dan Melayu Kupang yang rada mirip, selera lidah yang sama (meski Timor harus akui kalah di takaran cabai :D) dan satu lagi yang saya rasa penting... lagu!
Indonesian Youth Day memahami betapa pentingnya sebuah lagu sebagai jembatan pemersatu maka lahirlah theme song Sukacita Injil lengkap dengan tariannya yang sukses bikin baper, bikin jiwa muda bergelora ingin menyanyi dan menari seheboh-hebohnya. Dan bagi OMK Keuskupan Agung Kupang dan OMK Paroki Maria Ratu Para Rasul Manembo-nembo lagu jualah yang pertama kali memecah kebisuan, gerah dan bingung harus mau bicara apa saat pertemuan perdana di aula paroki. Inisiatif  menyanyikan theme song dilanjutkan yel-yel OMK Keuskupan Agung Kupang yang meminjam aransemen lagu pop daerah ‘Bae Sonde Bae’ jelas-jelas sukses bikin saling akrab, selanjutnya terserah Tuhan sebab ada cinta lokasi. Sampai detik ini saya melihat teman-teman banyak masih gagal move on. Reaksi kimia masih terus terjadi melampaui ruang dan waktu. Waaarbiyasaah.
Perjumpaan dengan Bapa Tedy
Saat malam rekreasi bersama sebelum esoknya pulang kembali ke Kupang, saya yang sedang terserang kantuk hebat di pojok Gereja tiba-tiba didatangi seorang bapak. Ia menyapa dan bertanya mengapa saya tidak ikut menari bersama teman-teman. Percakapan kami kemudian menjadi sangat menarik ketika ia mulai bercerita tentang petualangannya keliling Indonesia, tentang relasi antar umat Katolik dan Protestan di Manembo-nembo serta rasa kagumnya pada kebiasaan dansa-dansi orang Timor. “Kalian itu kalau badansa deng manari so paleng asik sudah.” Kehadiran OMK Keuskupan Agung Kupang baginya menyenangkan sebab ketika melihat orang muda Kupang berdansa waltz, jeven, chachacha, ia tiba-tiba mengingat masa kecilnya. Rumah beliau persis di sebelah paroki Manembo-nembo. Secara khusus beliau mengapresiasi kerukunan dan komunikasi yang baik antar umat Protestan dan Katolik di wilayah kediamannya. Saya ikut gembira mendengarnya.
Obrolan kami terhenti sejenak ketika ia tiba-tiba berinisiatif pulang ke rumah untuk mengambil ‘sesuatu’ buat saya. Sepuluh menit kemudian beliau hadir lagi dengan sekantong pala, kayu manis dan cengkeh. Dari sinilah dongeng tentang orang Minahasa dimulai. Saya selalu kagum dengan orang-orang yang begitu mencintai tanah kelahirannya tanpa syarat. Orang-orang yang dengan begitu rendah hati merasa punya hutang budi terhadap alam semesta yang dianggap sudah memberi banyak kelimpahan berkat.
“Minahasa punya tanah kaya dan orang-orang dengan hati seluas samudera. Di sini yang penting kerja keras kau akan hidup bahagia sejahtera. Tapi kalau mau jadi preman, silakan ke Jakarta.”
Hari tua pak Teddy masih diisi dengan traveling. Ia menyebut dirinya ‘sang pengelana’. “Sejak dulu, saya hanya punya prinsip bahwa saya tidak ingin nanti di hari tua, saya cuma tahu keindahan Indonesia dari cerita orang lain, buat apa? Saya sendiri harus mengalaminya langsung.” Ungkapan  paripurna ini keluar begitu saja dari mulutnya. Saya terdiam cukup lama, mencoba untuk meresapi kalimatnya. Namun ia mengira saya sudah terlalu lelah. Ia berdiri dan menepuk pundak saya sembari berbisik, “sampai  ketemu di Timor, kawan.” Ia menghilang di tikungan jalan, dengan secarik kertas berisi nomor hape dan alamat lengkap saya di Mollo. Ketika tiba di Kupang, beliau menelpon saya. “Dicky, simpan nomor saya.” Pesannya singkat.
Di Manado, saya menemukan sisi yang berbeda dari sebuah bangunan bernama kemanusiaan. Orang-orang yang ruhnya berselimutkan falsafah hidup, Si Tou Timou Tumou Tou. Hidup untuk menghidupi, mendidik, dan menjadi berkat bagi orang lain.
***
Kelak ketika benih pala yang kau beri
Tumbuh berseri di tanahku
Kau kuingat sebagai saudara seiman
Menari dalam pakaian Kabasaran
Kau kuingat sebagai sukacita saat smokol bersama
Kau kueja sebagai gelora yang tak habis-habis
Setelah pesta di Lotta usai
Setelah empat tempayan raksasa itu mengisi penuh memori dan nurani kita
Kau bahkan masih meminta lagu Mogi diputar kembali
Karena tangan yang tergenggam enggan menerima takdir rindu
Lepaskanlah, saudara
Lagu rindu...memang menyesakkan dada,
tapi ingatlah Mogi itu juga mengandung sukacita
Apalagi Gemu Famire
Pada akhirnya kita sendiri yang harus menulis di dada:
Dalam sukacita injil dan cerita

torang samua basudara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Beta tunggu lu pung komentar di sini, danke...