Ketika hati ingin memulai, lepaskanlah
Agar jiwa
yang bebas mencari sisinya sendiri
Jembatan
memang menghubungkan
Hanya siapa
yang ingin memulainya duluan?
Setiap
ziarah barangkali akan meneduhkan
Namun
saudara dibutuhkan dalam perjalanan ini
Sejarah,
atau apapun itu
Sekeping
saja
Tersusun
atas banyak warna
Karena
memilih untuk memulai sebuah perjalanan menuju sukacita
Harusnya
dimaknai sebagai terang dan garam
Jiwa-jiwa
muda tahu betul di sebelah mana mimpi ini harus disimpan
Dijaga
Dan
digelorakan
Kaukah kawan
perjalanan?
***
Jujur saja saya
menolak ikut kegiatan ini ketika ditawarkan pastor paroki.
Saya merasa diri ini sudah terlalu tua di OMK dan
kesempatan baik seperti ini harusnya diberikan ke teman-teman yang lebih muda.
Sayangnya rentang usia anggota OMK di paroki saya terlalu jauh. Sedikit saja
OMK seperti saya yang sudah bekerja dan banyaaaak sekali OMK dengan status
pelajar. Kegiatan seperti IYD yang memakan waktu lebih dari seminggu rasanya
sulit untuk melibatkan mereka yang masih berstatus pelajar. Oke, akhirnya saya
bersedia untuk ikut. Meski dengan sedikit motivasi apalagi ekspektasi.
Sebagai penulis, saya
punya beberapa pengalaman mengikuti festival sastra, residensi kesenian, atau
forum-forum kepemudaan (youth leader forum) yang memakan waktu seminggu
bahkan hingga dua atau tiga bulan. Persis dengan konsep IYD, bertemu banyak
orang muda, dengan mimpi dan semangat besar, tinggal bersama dan diskusi,
membuat project bersama yang punya dampak sosial. Kesadaran
ini lantas mulai menumbuhkan motivasi ikut IYD dan
punya beberapa ekspektasi terhadap kegiatan ini. Jika sebelumnya kegiatan yang
saya ikuti terkait dengan literasi, kebudayaan, seni dan kewirausahaan sosial,
maka kali ini sedikit spesial: berkegiatan bersama sesama orang muda seiman. Diam-diam
saya merindukan itu.
Saya teringat dua pesan
kakak saya, katanya begini: "Kamu diberi lebih dari satu talenta, maka
dari kamu juga akan dituntut lebih." Sebelumnya saya banyak aktif
dibeberapa komunitas anak muda di Kupang. Ikut membangun komunitas anak muda dan mendukung
setiap kerja kolaborasi kaum muda di NTT yang memilih untuk bergerak di
jalan kesenian, ekonomi kreatif dan kewirausahaan sosial. Namun di sisi lain
saya merasa belum punya pengalaman bagaimana talenta yang saya
punya ini bisa berkontribusi bagi perkembangan iman gereja
Katolik.
Pesan kedua dari kakak saya, "Kamu sudah terlalu banyak
meminta Tuhan mendengarkanmu ketika berdoa. Tuhan saya mau ini, saya ingin
begitu, kok saya begini ya Tuhan? Tapi pernahkah kau duduk diam dan mendengar
Tuhan berbicara lewat Injilnya?"
Saya menulis buku dan membaca banyak literatur,
tapi kitab suci jarang sekali saya baca. Saya terlalu banyak meminta kepada
Tuhan, tetapi jarang sekali saya mendengarkan Tuhan berbicara lewat kitab suci.
Maka, momen IYD dengan tema 'merayakan sukacita Injil', saya merasa ini saatnya saya mendekatkan diri dan mendengar sabdaNya dengan sukacita. Saatnya talenta yang sudah Ia berikan
itu saya balas dengan tekun mendengar kabar sukacita dariNya dan ikut mengambil
bagian dalam pewartaan dan pengembangan iman kaum saya, orang-orang muda
Katolik. Saya semakin tidak sabar untuk tiba di Manado, bertemu dengan lebih
banyak orang muda, yang punya semangat dan mimpi besar untuk jadi agen perubahan
dalam Gereja dan bangsa ini. Sebab kata Paus Fransiskus, orang muda seperti saya ini
bukan lagi masa depan Gereja, melainkan masa kini Gereja.
Sudah saatnya berbuat sesuatu.
Saya bersyukur ini adalah
kesempatan pertama saya menginjakkan kaki di tanah Minahasa. Di tanah yang kaya
akan hasil laut dan pertanian, saya mendapati sukacita Injil dalam keberagaman
itu sungguh menjelma nyata dalam keseharian saudara-saudara saya, umat Katolik
di Minahasa. Sukacita injil bukan karena kebetulan ada acara besar Indonesian
Youth Day 2016 yang mengusung tema yang sama. Orang Katolik Manado dalam
pandangan pribadi saya, hidup dalam kelekatan sukacita injil. Hal itu mengakar
kuat dalam tradisi atau kebudayaan mereka, bagaimana dalam persekutuan injil
mereka bekerja keras untuk menghidupi diri sendiri dan orang lain. Pertama kali
tiba di paroki tempat kami live in,
paroki Maria Ratu Para Rasul di daerah Manembo-nembo, kota Bitung, saya
mendapati orang-orang mengabdikan dirinya untuk Tuhan dan sesama dalam
persatuan Gereja. Dengan antusias mereka datang berkumpul di aula paroki,
saling bekerjasama, berdoa, menyiapkan perjamuan makan bersama, dengan hangat
memeluk dan membukakan pintu rumah bagi tamu baru dari belahan selatan
Indonesia: orang-orang muda Katolik dari Keuskupan Agung Kupang. Tak ada yang
saling mengenal sebelumnya. Bahasanya jelas dan mempersatukan: kita adalah
saudara dalam Kristus. Sungguh, saya tidak berlebihan menulis ini. Pada titik
ini, saya berefleksi bahwa kebahagiaan dan sukacita itu bukan soal materi yang
melimpah, atau bungkusan-bungkusan yang terlampau mewah dan mengilat. Tidak. Di
aula bekas Gereja tua, udara panas tak menyurutkan orang-orang untuk tertawa,
saling kelakar, melempar senyum tulus, berbagi tisu untuk menyeka keringat,
bahkan menyanyi dan menari bersama yel-yel Keuskupan Agung Kupang yang.... oh
Tuhan, apakah kita sudah pernah berkenalan seribu tahun lamanya sampai-sampai semua
ini terjalin begitu cair?
Smokol bukan
Pamokol
Saya menutup hari itu di rumah nan sederhana milik
keluarga Albakir, di wilayah rohani (sebutan lain untuk Kelompok Umat
Basis-KUB) Santa Elisabeth, stasi Hati Kudus Yesus Watudambo. Inez, sang
koordinator OMK setempat yang masih berdarah Sumba mengatur semuanya dengan
sangat baik.
Bapa Albakir berasal dari Gorontalo, masuk Katolik ketika menikah dengan Mama Lenci Rotty. Di Watudambo, keluarga besar Rotty adalah umat Katolik perdana. Saya berkesempatan mendengar kisah tentang Bapa Yefta Rotty sang perintis Gereja Katolik di Watudambo berpuluh-puluh tahun lalu. Ketika beliau berhasil mengumpulkan 5 orang Katolik dan berniat melaporkannya ke Bapa Uskup di Manado supaya mendapat pelayanan dari Gereja, toh beliau masih ditantang Bapa Uskup, “kau harus mencari dua orang lagi.” Tujuh pada akhirnya bukan lagi soal angka ganjil tapi genaplah ia sebagai sebuah persekutuan iman yang baru. Bapa Rotty mendirikan sekolah dasar Katolik yang mengingatkan saya akan apa yang juga dilakukan bapa AFK Oematan (Ba’i Klerek) di awal paroki Santa Maria Immaculata Kapan berdiri. Kini umat Katolik di Watudambo telah mencapai angka 200 lebih kepala keluarga. Seorang menantu bapa Yefta Rotty menceritakan kisah ini kepada saya dengan rasa haru dan bangga yang menyala-nyala dalam sebuah kesempatan smokol bubur Manado (tinutuan) di kediamannya.
Bapa Albakir berasal dari Gorontalo, masuk Katolik ketika menikah dengan Mama Lenci Rotty. Di Watudambo, keluarga besar Rotty adalah umat Katolik perdana. Saya berkesempatan mendengar kisah tentang Bapa Yefta Rotty sang perintis Gereja Katolik di Watudambo berpuluh-puluh tahun lalu. Ketika beliau berhasil mengumpulkan 5 orang Katolik dan berniat melaporkannya ke Bapa Uskup di Manado supaya mendapat pelayanan dari Gereja, toh beliau masih ditantang Bapa Uskup, “kau harus mencari dua orang lagi.” Tujuh pada akhirnya bukan lagi soal angka ganjil tapi genaplah ia sebagai sebuah persekutuan iman yang baru. Bapa Rotty mendirikan sekolah dasar Katolik yang mengingatkan saya akan apa yang juga dilakukan bapa AFK Oematan (Ba’i Klerek) di awal paroki Santa Maria Immaculata Kapan berdiri. Kini umat Katolik di Watudambo telah mencapai angka 200 lebih kepala keluarga. Seorang menantu bapa Yefta Rotty menceritakan kisah ini kepada saya dengan rasa haru dan bangga yang menyala-nyala dalam sebuah kesempatan smokol bubur Manado (tinutuan) di kediamannya.
Smokol perdana di rumah mama Lenci waktu itu adalah nasi
kuning dengan abon ikan tuna yang sangat pedas. Bukan orang Manado namanya
kalau dalam setiap masakan mereka tidak diberi cabai. Saat itu untuk pertama
kalinya saya tahu apa itu smokol ketika sedang makan bersama di teras rumah dan
beberapa tetangga mampir karena mendengar ada tamu jauh di lingkungan mereka.
Dan saya baru sadar bahwa kebiasaan menikmati sarapan (smokol) di teras rumah
adalah sebuah tradisi yang hidup. Hampir di setiap rumah, meja dan kursi
ditempatkan di teras rumah untuk acara smokol atau sekadar mengobrol santai
dengan tamu sambil minum teh. Dan uniknya, setiap orang yang lewat akan
ditegur/diajak. “Mari smokol jo.”
Begitu sapaan yang akan kita jumpai ketika pagi hari melewati rumah tetangga.
Pengalaman ini akhirnya memperkuat persepsi awal saya di hari sebelumnya ketika
ikut perjamuan bersama umat di Manembo-nembo. Orang Manado adalah pribadi yang
terbuka dan bersahabat. Dan bahwa peristiwa makan bersama adalah bagian tak
terpisahkan dari sebuah upaya membangi sukacita kepada sesama. Dengan begitu
meriahnya peristiwa makan bersama, meja dengan berpuluh-puluh menu pada
akhirnya tak lagi terlihat sebagai “makan porsi gunung Mutis” namun sudah
menjadi “hidup untuk berbagi, hidup untuk dinikmati bersama”. Perjamuan makan
bersama bukan lagi soal kuantitas tapi soal kualitas. Tolong koreksi jika
persepsi saya tentang kebudayaan orang Minahasa ini barangkali masih keliru.
Dari peristiwa smokol itu, keluarga Albakir mengenal saya
lebih jauh dan sebaliknya saya pun dibukakan pintu untuk masuk ke dalam ruang
pribadi mereka.
“Kami orang Manado begini, Dicky. Apa adanya, tidak suka
tutup-tutupi. Baik dan buruk dari diri kami, ya beginilah kami. Jadi jangan
kaget ya...” Elvan anak ketiga mama Lenci mengingatkan saya. Keluarga ini
hebat. Mama Lenci cerita tentang masa lalu yang sangat sulit. Bekerja keras
adalah pilihan yang mau tidak mau harus diambil. Bapa Albakir yang pendiam
mengisi harinya sebagai buruh tani di perkebunan milik orang lain.
“Tanam milu
(jagung) sehari dibayar Rp.100.000.” Jelas mama Lenci. “Saya sendiri dulu
sempat kerja di rumah orang. Ya bagaimana, saya harus dukung suami besarkan
lima orang anak. Apa saja kami kerjakan yang penting halal dan bisa
tambah-tambah untuk sambung hidup.” Beliau lantas menumpahkan rasa bangga
setelah kini mulai memetik buah dari kerja keras dan devosinya kepada Bunda
Maria selama ini. Dua anak sudah menikah dan membangun kehidupannya
masing-masing. Elvan dan adiknya Alicia menempuh kuliah sembari bekerja. Elvan
yang cerdas dan pekerja keras bahkan didaulat sebagai asisten dosen sekaligus
staf di kampus tempat ia kuliah. Ia kini mulai banyak mengambil peran baru sebagai
penopang ekonomi keluarga. Membantu membiayai kuliah Alicia dan Jonatan adik
bungsunya yang masih SMP. Tinggal di Watudambo, mata saya dibukakan untuk
melihat kondisi yang menurut saya luar biasa. Kebanyakan orang muda Katolik di
Watudambo sudah aktif bekerja saat duduk di bangku sekolah atau kuliah. Sejak
belia orang-orang sudah dibentuk untuk bekerja keras, untuk menghidupi diri
sendiri dan orang-orang di sekitar.
Seluruh pengalaman hidup bersama keluarga Albakir membawa
saya pada satu pepatah orang Manado, Si
Tou Timou Tumou Tou. Hidup untuk menghidupi orang lain. Keluarga Albakir
hidup untuk saling mendukung satu sama lain, hidup untuk membuka diri dengan
tetangga bahkan untuk hal paling sederhana, “mari smokol jo,” kepada siapa saja yang lewat. Bekerja keras pada akhirnya
bukan untuk memegahkan diri sendiri. Bekerja keras pada intinya untuk
bersukacita bersama, hidup dan menghidupi sesama.
Ketika selesai smokol, saya tiba-tiba ingat kata pamokol.
Kata yang amat kasar sebenanrya bagi orang Timor. Kata yang sama sekali jauh
dari kesan dan persepsi yang sudah ditulis panjang lebar di atas.
Klik!
Ketika berusaha untuk memulai tulisan ini, saya sengaja
mengambil tempat duduk di teras dapur yang menghadap ke kebun kopi. Saya
membayangkan kebun pala dan jagung di Watudambo. Saya coba buka lagi foto-foto
dan video selama IYD berlangsung di Manado. Saya ingin meresapi setiap momen
yang berhasil saya bidik dari kamera handpone atau berusaha menyerap energi
yang mungkin masih tersisa dari video klip theme
song ‘Sukacita Injil’. Barangkali pengalaman yang saya dapat ini agak
melenceng dari espektasi saya sebelumnya yang ingin ketemu dengan banyak orang
muda Katolik dengan passion atau
mimpi yang sama di bidang kesenian, literasi atau social enterprise. Saya memang tidak menemukan itu di IYD kali ini.
Di sesi seminar, saya dimasukkan ke sesi diskusi tentang OMK dan Politik. Tapi
sungguh saya mau bilang bahwa pengalaman live
in jauh lebih kaya dan itu membanggakan. Lantas bagaimana mungkin
pengalaman live in yang hanya 4 hari
bisa meninggalkan kesan yang begitu kuat? Alasannya mirip, kliknya satu: bahasa
kita sama yakni bahasa kasih. Roh dan jiwa kita satu yakni iman Katolik.
Pelengkapnya, barangkali soal kesamaan budaya. Mulai dari bahasa Melayu Manado
dan Melayu Kupang yang rada mirip, selera lidah yang sama (meski Timor harus
akui kalah di takaran cabai :D) dan satu lagi yang saya rasa penting... lagu!
Indonesian Youth Day memahami betapa pentingnya sebuah
lagu sebagai jembatan pemersatu maka lahirlah theme song Sukacita Injil lengkap dengan tariannya yang sukses
bikin baper, bikin jiwa muda
bergelora ingin menyanyi dan menari seheboh-hebohnya. Dan bagi OMK Keuskupan
Agung Kupang dan OMK Paroki Maria Ratu Para Rasul Manembo-nembo lagu jualah yang
pertama kali memecah kebisuan, gerah dan bingung harus mau bicara apa saat
pertemuan perdana di aula paroki. Inisiatif
menyanyikan theme song
dilanjutkan yel-yel OMK Keuskupan Agung Kupang yang meminjam aransemen lagu pop
daerah ‘Bae Sonde Bae’ jelas-jelas sukses bikin saling akrab, selanjutnya
terserah Tuhan sebab ada cinta lokasi. Sampai detik ini saya melihat
teman-teman banyak masih gagal move on.
Reaksi kimia masih terus terjadi melampaui ruang dan waktu. Waaarbiyasaah.
Perjumpaan
dengan Bapa Tedy
Saat malam rekreasi bersama sebelum esoknya pulang
kembali ke Kupang, saya yang sedang terserang kantuk hebat di pojok Gereja
tiba-tiba didatangi seorang bapak. Ia menyapa dan bertanya mengapa saya tidak
ikut menari bersama teman-teman. Percakapan kami kemudian menjadi sangat
menarik ketika ia mulai bercerita tentang petualangannya keliling Indonesia,
tentang relasi antar umat Katolik dan Protestan di Manembo-nembo serta rasa
kagumnya pada kebiasaan dansa-dansi orang Timor. “Kalian itu kalau badansa deng
manari so paleng asik sudah.” Kehadiran OMK Keuskupan Agung Kupang baginya
menyenangkan sebab ketika melihat orang muda Kupang berdansa waltz, jeven,
chachacha, ia tiba-tiba mengingat masa kecilnya. Rumah beliau persis di sebelah
paroki Manembo-nembo. Secara khusus beliau mengapresiasi kerukunan dan
komunikasi yang baik antar umat Protestan dan Katolik di wilayah kediamannya. Saya
ikut gembira mendengarnya.
Obrolan kami terhenti sejenak ketika ia tiba-tiba
berinisiatif pulang ke rumah untuk mengambil ‘sesuatu’ buat saya. Sepuluh menit
kemudian beliau hadir lagi dengan sekantong pala, kayu manis dan cengkeh. Dari
sinilah dongeng tentang orang Minahasa dimulai. Saya selalu kagum dengan
orang-orang yang begitu mencintai tanah kelahirannya tanpa syarat. Orang-orang
yang dengan begitu rendah hati merasa punya hutang budi terhadap alam semesta yang
dianggap sudah memberi banyak kelimpahan berkat.
“Minahasa punya tanah kaya dan orang-orang dengan hati
seluas samudera. Di sini yang penting kerja keras kau akan hidup bahagia
sejahtera. Tapi kalau mau jadi preman, silakan ke Jakarta.”
Hari tua pak Teddy masih diisi dengan traveling. Ia menyebut dirinya ‘sang
pengelana’. “Sejak dulu, saya hanya punya prinsip bahwa saya tidak ingin nanti
di hari tua, saya cuma tahu keindahan Indonesia dari cerita orang lain, buat
apa? Saya sendiri harus mengalaminya langsung.” Ungkapan paripurna ini keluar begitu saja dari mulutnya.
Saya terdiam cukup lama, mencoba untuk meresapi kalimatnya. Namun ia mengira
saya sudah terlalu lelah. Ia berdiri dan menepuk pundak saya sembari berbisik,
“sampai ketemu di Timor, kawan.” Ia
menghilang di tikungan jalan, dengan secarik kertas berisi nomor hape dan
alamat lengkap saya di Mollo. Ketika tiba di Kupang, beliau menelpon saya.
“Dicky, simpan nomor saya.” Pesannya singkat.
Di Manado, saya menemukan sisi yang berbeda dari sebuah
bangunan bernama kemanusiaan. Orang-orang yang ruhnya berselimutkan falsafah
hidup, Si Tou Timou Tumou Tou. Hidup
untuk menghidupi, mendidik, dan menjadi berkat bagi orang lain.
***
Kelak ketika benih pala yang kau beri
Tumbuh berseri di tanahku
Kau kuingat sebagai saudara seiman
Menari dalam pakaian Kabasaran
Kau kuingat sebagai sukacita saat smokol bersama
Kau kueja sebagai gelora yang tak habis-habis
Setelah pesta di Lotta usai
Setelah empat tempayan raksasa itu mengisi penuh memori dan nurani kita
Kau bahkan masih meminta lagu Mogi diputar kembali
Karena tangan yang tergenggam enggan menerima takdir rindu
Lepaskanlah, saudara
Lagu rindu...memang menyesakkan dada,
tapi ingatlah Mogi itu juga mengandung sukacita
Apalagi Gemu Famire
Pada akhirnya kita sendiri yang harus menulis di dada:
Dalam sukacita injil dan cerita
torang samua basudara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Beta tunggu lu pung komentar di sini, danke...