Senin, 05 Mei 2014

Pohon Kersen dan Batman

ilustrasi oleh Rara Watupelit dan Arystha Pello

Beta ini siapa?”
Ia menulis pertanyaan itu pada selembar kertas karton berwarna hijau lalu memandang ke luar jendela menuju ke pohon kersen yang rimbun di halaman. Pohon yang ia tanam duabelas tahun yang lalu.
Ia mengalihkan perhatiannya pada lembaran kertas di tangannya. Ia mengambil gunting lalu memotong kertas itu menyerupai seekor kelelawar. Tulisan pertanyaan itu sengaja dibiarkan tetap ada di tengah kelelawar kertas itu. Lalu ia mengambil seutas benang dan diikatkannya pada moncong kelelawar kertas tersebut. Sedangkan ujung benang satunya ia ikat pada sebatang kayu sebesar ibujarinya. Kelelawar kertas yang malang dengan mulut terikat benang, tanpa rumah dan sanak famili. Ia memikirkan hal itu dan tersenyum kecut lantas melempar padangannya ke luar jendela menuju titik yang sama, pohon kersen yang pernah ditanaminya.
Ia mengamati lebih lekat, menembus gelap dan temaram lampu teras. Seolah menunggu sesuatu. Lama sekali ia mengamati pucuk pohon kersen dan yang dinanti belum juga tiba.
Ia mengalihkan perhatiannya ke atas meja. Netbook kuning dengan teriakan mesin yang memecah kesunyian. Semakin sunyi, semakin garang ia meraung. Ia mendekat dan menarikan kesepuluh jarinya di atas tombol-tombol netbook. Yang ia nantikan belum muncul juga. Ia menulis sesuatu.
***
Aku benci rumah ini. Rumah tua yang ditinggalkan almarhum Mamatua dan Bapatua untuk aku, anak bungsu yang... doyan menganggurkata orang sih begitu. Tunggu dulu, tolong kau garis bawahi kata menganggur itu, ya?
Aku terlalu membenci segala sesuatu yang ada di sekitar. Mungkin karena aku lajang yang hampir lapuk. Betah menyepi, menulis, menikmati keanehan yang diberikan semesta dan bertanya mengapa dalam diam semut dan nyamuk penghuni rumah ini mendadak bermutasi menjadi setengah zombie?! Ini gila. Aku bangun pagi dan menemukan mereka telah tumbuh meraksasa di dapur juga kolong tempat tidur dan hal itu adalah kabar buruk bagi sarapan pagiku.
Keanehan berikutnya terjadi pada pohon kersen di halaman rumah. Seratus daunnya merangas hari ini bersamaan dengan seratus tunas baru yang muncul. Aku lelah menyapu halaman tetapi tak sudi pula memotongnya karena akan membawa malapetaka baru. Kota ini dulunya terkenal sejuk, namun kini terlampau panas, jangan-jangan giliranku yang akan meranggas dan mati kepanasan sebab tiada pohon peneduh di halaman.
Tetanggaku pernah berujar sinis ketika melihat aku kesusahan menyapu halaman. Katanya, “Makanya cepat cari bini su, biar ada yang urus ini rumah ko jang sama ke rumah hantu sa!” Aku diam seolah tak mendengar. Ia pergi begitu saja sambil menelan ludahnya sendiri sebab selalu kumentahkan semua omongan basinya dengan hanya diam sambil menyimpan bergumpal-gumpal rasa cuek.  
Dasar perempuan tua sial! Sibuk mengurus orang lain dan tak sadar jika suaminya, Pak PH itu, raja selingkuh di kota Saku mengetahuinya dari PSK langgananku.
***
Ah, akhirnya kau datang juga. Ia melirik ke arah jam dinding. Satu jam sudah, batinnya.
Ia melihat segerombolan kelelawar beterbangan mengerubuti dedaunan kersen. Ia segera keluar memegang kelelawar kertas yang terikat mulutnya dan berdiri di bawah pohon kersen. Ia mengawasi ke kiri dan ke kanan, dankurang ajar!perempuan tua itu sedang melemparkan padangan sinis ke arahnya.
Ditatapnya burung kertas itu. “Beta ni siapa?” secepat kilat ia langsung melempar kelelawar kertas dan kayu sebesar ibujari yang terikat dengan benang ke atas pohon kersen. Tergantunglah kelelawar kertas itu, berputar 360 derajat ditiup angin malam. Ia tersenyum puas dan melemparkan senyum sinis berikutnya untuk perempuan tua di ujung sana. Tapi perempuan tua itu malah sudah menghilang.
Ia kembali ke teras dan mengambil posisi di atas kursi goyang milik almarhum Bapatuanya lalu menatap ke arah kelelawar kertas beserta kawanan kelelawar sebenarnya. Sepuluh ekor jumlahnya, ia menduga-duga. Beberapa buah kersen jatuh. Rerimbun daun kersen bergoyang terkibas sayap kelelawar. Ada yang rapuh dan terjatuh. Angin malam musim Timur menerpa wajahnya. Ia melamun dan tenggelam dalam jurang yang menenangkan. Melayang semakin ke dalam, semakin bobot tubuhnya terasa seberat kapas.
***
Ingin sekali aku memilih untuk melupakan identitas asliku. Hidup tanpa KTP, Kartu Keluarga, rapat RT hingga sensus penduduk. Tanpa listrik dan tanpa berinteraksi dengan tetangga cerewet. Mungkin menjual rumah ini dan menyepi di hutan. Tapi ada satu yang menahanku: pohon kersen ini. Oke, aku mengambil jalan tengah saja. Misalnya tetap menempati rumah tua ini sambil sesekali mengobrol dengan satu dua orang yang kupercayai saja. Termasuk suami perempuan tua itu, Pak PH, sorang polisi yang doyan selingkuh. (Ia selalu menghampiriku dan meminta kondom). Aneh, aku seolah lebih membela si peselingkuh sebab membenci istrinya yang cerewet. Orang berikutnya, penjual sayur keliling. Selebihnya aku tidak peduli. Toh tak ada untungnya. Lebih untung aku menyepi dalam buih-buih bir dan menulis untuk menyambung hidup. Titik.
Aku aneh? Mungkin iya. Supaya tak merasa aneh, gampang; tinggalkan saja aku. Atau akan aku tinggalkan kalian, terbang jauh seperti Batman.
***
Ia ingin menjadi Batman. Mencari makan di pohon kersen itu lalu terbang menuju Gotham City idamannya. Radar minta pertolongan mungkin akan ia terima dan ia menyukai perannya memberi selamat bagi jiwa-jiwa.
Namun rupanya keinginannya sulit tercapai. Entah sampai kapan ia akan menjadi Batman dan mencapai kota Gotham impiannya. Kulit buah kersen berjatuhan. Bayu masih meliukkan kelelawar kertas 360 derajat, menarikan pertanyaan itu: “Beta ni siapa?”
Ia sepenuhnya masih melayang bebas, semakin ke dalam semakin ia kehilangan bobot tubuhnya. Di kedalaman jurang yang menenangkan itu, pelan-pelan ia melihat penggalan-penggalan film tentang dirinya diputar oleh seseorang, entah siapa. Samar dan berganti rupa dengan cepat.
Beta ni siapa?” ia berteriak meski tiada yang mendengar. Teriakan yang sesungguhnya selembut kapas.
Beta ni siapa?”
“Kau tak akan menemukan jawabannya.” Sebuah bisikan lembut sayup-sayup dibuai angin.
Ia bertanya dan bisikan itu memberinya jawaban yang sama.
“Anak, lu pulang sa.” Sebuah saran dari pembisik.
Ia mendadak terbangun dan menggetarkan kursi goyang. Dilihatnya gerombolan kelelawar itu telah menghilang. Tak ada kulit kersen yang jatuh. Angin masih setia memutar burung kertas itu 360 derajat. “Beta ni siapa?” ia meraba tubuhnya yang telah basah oleh keringat.
***
“Lu tahu ko sonde, lu siapa?” Ia menarik tanganku dan menunjukkan tato kelelawar kecil di lengan kiriku. Aku keheranan.
“Ini kelelawar. Tapi memangnya beta ni siapa?” Aku menjawab dengan nada kebingungan.
“Lu tu anak kelelawar. Anak suanggi.” Ia bergegas pergi meninggalkan aku yang nyaris kaku di bawah pohon kersen. Pertemuan yang aneh baru saja terjadi. Aku baru memikirkannya sekarang dan lelaki tua itu telah menghilang di kelokan jalan. Kemisteriusannya sesaat mematikan semua sistem syarafku.
Aneh. Lelaki itu tiba-tiba hadir di saat aku ingin meninggalkan identitas asli. Dan tato... aku terhenyak! Tato itu telah lenyap dari lengan kiriku. Aku merasakan badan ini kaku untuk kedua kalinya. Air mataku berurai seketika. Sekelebat bayangan hitam menghampiri pikiran: tali-temali itu.
Dari kejauhan, perempuan tua itu melihat keanehan yang terjadi padaku dan menertawakannya dengan keras, seperti setan beludak.
“Lu gila? Suanggi gila! Ha-ha-ha-ha.
Bayangan hitam menghampiri pikiranku: lu harus duluan!
***
Ia adalah Batman kesepian yang sesungguhnya. Tanpa sayap. Tanpa pernah menjajaki Gotham City. Tanpa pernah merasa telah menolong orang-orang jelata. Ia adalah Batman yang tak pernah dikenal dan dicatat generasi manapun dalam sejarah dunia.
Ia selalu tercenung dan merasa gagal.
Ia menyeberangi kota dan lembah yang meringankan lalu kembali tanpa menemukan kenyataan yang sebenarnya. Sebab pertanyaan yang sama masih ia genggam dengan kepalan tangan yang basah oleh keringat dingin. Kepahitan yang tak wajar.
“Kau tak akan menemukan jawabannya!”
***


Seorang pemuda lajang, HD, berusia 35 tahun ditemukan tewas terjerat tali plastik di atas dahan pohon kersen di halaman rumahnya sendiri di kelurahan EM, kota K. Korban pertama kali ditemukan pada Kamis (19/4) pukul 4 dinihari oleh tetangganya sendiri, yakni seorang polisi bernama PH yang baru pulang dari kota S. Dan yang tidak kalah menghebohkan adalah beberapa saat kemudian polisi yang sama juga menemukan istrinya, bernama NH telah tewas di kamar rumahnya dengan luka sabetan parang di bagian leher. Lokasi penemuan mayat pertama dan kedua hanya berjarak sekitar 30 meter.Korban HD dikabarkan telah hidup sendiri selama 6 tahun semenjak kematian kedua orang tuanya dan delapan orang saudaranya sekaligus dalam peristiwa kecelakaan maut di kota S. Menurut saksi mata yang kebetulan lewat sekitar pukul 20.00, sempat melihat HD dan NH sedang beradu mulut dan saksi mata itu mendengar NH meneriakan kata-kata ‘lu suanggi’ kepada HD sembari mengungkit-ungkit bahwa kematian sepuluh anggota keluarga HD sebagai tumbal dari kebiasaan mereka memelihara setan.
Kuat dugaan, HD yang adalah seorang penulis cerita misteri di majalah F dan sejumlah koran lokal dengan nama pena Ficus Benjamina, terlebih dahulu menghabisi nyawa NH lalu mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri. (dus)



***
Kelelawar kertas itu terus berputar diterpa angin sepanjang malam. Ia memang tak akan menemukan jawabannya. Tapi ia masih ingin menjadi Batman.
          
 Pasir Panjang, 2 Mei 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Beta tunggu lu pung komentar di sini, danke...