Sabtu, 16 Juli 2016

NKRI Harga Mati Atau NKRI Kasih Mati?

Namanya Ronny Muyapa, asal Nabire Papua, tetangga beta di kosan daerah Klebengan, CT 8 Jogjakarta tahun 2005. Seumur hidup beta, dialah orang Papua pertama yang beta kenal secara dekat dan jadi kawan baik. Sejak menghabiskan masa kecil di Timor dan masa remaja di Flores, orang Papua hanya beta lihat di TV. Kami sama-sama penghuni kos tunggal di rumah yang kamar-kamarnya disewakan, bukan tipikal kamar kos kebanyakan yang berderet panjang. Kami bertetangga sekaligus sekelas di D3 Komunikasi UGM. Di angkatan kami hanya Ronny seorang yang Papua. Setiap hari Minggu kami misa bersama di Paroki Pringwulung dan ikut organisasi Keluarga Mahasiswa Katolik Fisipol UGM. Kepada beta dia selalu bilang, "Dicky sa ni malas ke Gereja tapi sa senang ada ko yang bisa ingatkan dan ajak sa ke Gereja." Di Jogja beta tak punya motor, terbiasa jalan kaki atau naik bus ke mana-mana. Berteman dengan Ronny yang punya motor membantu beta juga ketika harus mengerjakan tugas praktikum di tempat yang jauh. Kami jadi cepat akrab, barangkali karena sama-sama dari timur sehingga gampang memahami, misalnya hal kecil seperti logat dan selera humor.

Karena Ronny teman Papua pertama beta, banyak hal baru tentang orang Papua akhirnya beta tahu. Termasuk tahu bagaimana lingkungan kami berdua yang baru ini memperlakukan orang Papua seperti Ronny. Yang beta temui, indikasi bercandaan berbau ras dengan sederet stigma sudah sonde terpisahkan lagi. Seolah dengan kehadiran Ronny, semua hal negatif tentang Papua dalam kepala mereka langsung melekat ke diri kawan beta ini. Ronny jadi bahan olokan di lingkungan kos. Kerap beta melihat sendiri bagaimana ibu kos beta berkomunikasi dengan ibu kos Ronny (bukan pemilik kos, hanya penjaga rumah) atau tetangga lainnya dengan kesan yang seolah itu ada di semua orang Papua. Pernah sekali beta langsung nyeletuk, "Ah bu, beta juga kalau sonde mandi badan bau, ibu juga. Siapa saja bisa bau badan, sonde hanya orang Papua." Ibu kos beta masih terus berkelit. Beta tinggalkan. Bahkan diam-diam ada usaha untuk mengeluarkan Ronny dengan alasan rumahnya mau dikontrakkan ke pihak lain. Tapi informasi dari ibu kos beta, kabarnya warga sekeliling keberatan. Jadi labeling menahun begitu kuatnya sampai semua yang terlihat berciri sama, asal berkulit hitam dan keriting, baiknya ditolak saja karena pasti perilakunya sama. Setahun kemudian beta pindah kos, Ronny juga pindah. Kami jadi semakin jarang bertemu.

Pindah ke tempat lain, ketemu ketemu kawan Papua yang lain dan bersahabat baik dengan mereka. Di Jogja beta memang sengaja membatasi diri untuk bergaul dengan sesama anak NTT karena berpikir, sudah jauh-jauh merantau ke Jogja masak bergaulnya hanya itu-itu saja. Beta berkawan baik dengan anak Kalimantan, Palembang dan ikut kelompok pemuda Ambon di GPIB Marga Mulya bahkan. Sampai titik ini, beta ketemu hal yang sama saja, bahkan lebih luas. Perilaku negatif segelintir orang dengan mudahnya melekat ke semua orang dari tempat yang sama. Ekspresinya dari yang bicara di belakang, dikiaskan, dijadikan bahan olokan hingga yang esktrim seperti memasang plang/poster secara gamblang di depan rumah kos atau di gang-gang perkampungan. Belakangan beta tahu Ronny sudah bikin band dan main film (tentang isu yang sama. Karya Nindi Raras, judulnya Katong Semua Basudara). Ronny hijrah ke Jakarta, kerap masuk TV dengan nama Ronny Lau. Tahun lalu pas beta ikut program Residensi di Bumi Pemuda Rahayu, Imogiri, kawan beta ini inbox di Facebook, mengundang beta untuk hadir dalam screening filmnya di Jogja Netpac Film Festival di Taman Budaya Yogyakarta. Pemutaran filmnya malam dan bukan weekend, beta sonde dapat izin dari tempat residensi. Seingat beta, Ronny selalu menanggapi dengan santai olokan rasis yang dialamatkan padanya. Beta tahu itu berat dan melukai, tapi dia bisa menyembunyikan itu dengan selera humornya. Dengan pribadi easy going-nya. Atau mungkin bagi teman Papua yang lain, berbagai tuduhan prematur itu kemudian jadi semacam sebuah resistensi dan menimbulkan perilaku cuek atau terkesan berjarak dengan lingkungan. Kalau bahasa orang Kupang, “terserah kalian saja mau cap apa, toh yang beta bikin baek pun dianggap jelek semua na.” Barangkali begitu.

Tapi pengalaman beta, kawan orang Papua itu loyal dan polos (genuine/apa adanya). Percayalah pada diri sendiri, beta belajar itu dari Ronny. Beta belum nonton filmnya, tapi pernah baca sinopsinya. Film itu semacam kisah nyata dari Ronny yang memang pernah ditolak sana-sini, diolok dan ditertawakan hanya karena dia.... (tarik napas panjang), orang Papua!

***
Hampir 5 tahun meninggalkan Jogja, banyak perubahan terjadi signifikan. Kelompok intoleran dan extrimis seperti punya banyak ruang dan kesempatan untuk mengadili sesama warga sipil sesuka hati. Paling tidak sejak kasus tembak mati oleh Kopassus kepada beberapa warga NTT di penjara Cebongan. Banyak ungkapan rasis mengemuka, sonde lagi jadi kasak-kusuk di belakang, tapi hadir di ruang publik dalam bentuk spanduk besar di mulut gang dan umpatan. Apa iya yang mabuk, sonde pake helm, bikin onar dan jadi preman di Jogja hanya dilakukan orang timur Indonesia? Apa iya yang separatis itu hanya orang Papua? Persis ketika saya 6 tahun tinggal dan bekerja di Jogja, selalu saja ada pertanyaan seperti ini, "Yakin kamu dari Timor. Kok sonde hitam, sonde keriting? bla bla bla..." Jadi di sini jelas, ada cara pandang yang keliru, ada generalisir. Sampai sekarang beta terus berpikir dan tertawa, yakin nih yang preman dan kriminalis di Jogja hanya orang timur saja? Jangan mudah lupa dan tutup mata. Jangan lempar batu sembunyi tangan.

Tentang tuduhan separatis, ini juga lucu. Simak saja postingan Facebook pak Made Supriatna yang semoga saja sonde bikin kita lupa. Kok selalu saja aksi damai anak muda Papua dikaitkan dengan separatis sedangkan demo besar-besaran menuntut keistimewaan daerahnya dengan berbagai ancaman 'merdeka saja', 'bikin negara sendiri', 'pisah dari NKRI', sampai beredar desain paspor Jogjakarta, sonde pernah kita anggap sebagai upaya separatisme juga? (Beritanya di sini). Lalu bagaimana dengan ormas intoleran yang kerap mengobok-obok Pancasila dan NKRI, kok malah didiamkan polisi. Kalau semua punya hak untuk berpendapat, kok pendapat orang Papua selalu dibungkam dengan kekerasan dan kekerasan, pembunuhan dan makian rasis?
sumber:www.facebook.com/m.supriatma

Jadi stop sudah dengan kalian pung tipu-tipu. Dulu katong semua dijajah Belanda lama, disiksa, dibunuh, dihujani makian rasis, lalu katong berupaya mencari keadilan dan merdekalah. Salah? Sonde salah, sebab katanya "kemerdekaan adalah hak segala bangsa, hak setiap orang maka segala bentuk penjajahan di atas muka bumi ini harus dihapuskan karena sonde sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan." Lalu katong rebut Papua jadi katong pung milik dan katong berubah jadi bangsa penjajah yang baru. Apa salah kemudian orang Papua minta keadilan bahkan minta untuk menentukan nasib mereka sendiri. Apa salah orang Timor Leste kemudian memilih untuk merdeka.

Hari ini katong masih asyik cari Pokemon ada di mana, sedangkan kawan-kawan muda Papua masih setia berusaha keras mencari keadilan bahkan harus berdarah-darah. Cek sendiri berapa orang Papua yang mati setahun terakhir, 5 tahun terakhir, 10 atau 20 tahun terakhir karena kekerasan dan pelanggaran HAM. Cek sendiri berapa banyak orang Papua yang tersingkir dari tanah, kebun, hutan dan gunung mereka sendiri. Lalu katong masih teriak NKRI harga mati? Atau NKRI Kasih Mati. Preet to the moon and back.
Selamanya katong akan dikenang sebagai bangsa penjajah baru, selain Belanda dan Jepang.



Christian Senda, tinggal di Mollo, Timor Tengah Selatan. Petani di www.lakoatkujawas.blogspot.co.id

2 komentar:

  1. terharu bacanya.... saya juga dari Papua dan saya ingin Papua merdeka karena sudah terdiskriminasi. bahkan orang jawa saja tidak menganggap Papua saudara, kenapa tidak kasih hak referendum?

    BalasHapus
  2. Saya orang jawa barat yang sangat berharap(dari dalam hati) punya kawan dari papua,semoga di tempat kuliah saya nanti ada orang papua aamiin

    BalasHapus

Beta tunggu lu pung komentar di sini, danke...