Senin, 14 November 2011

Omdo Komodo, Antara Konservasi dan Eksploitasi Semata



Tepat tanggal 11 bulan 11 tahun 2011, proses memilih (voting) TN Komodo sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia resmi ditutup. Meski sebenarnya aroma kontroversialnya belum hilang juga. Sampai hari ini orang-orang masih berbangga hati juga deg-degan menunggu pengumuman apakah Komodo akan menjadi bagian dari 7 keajaiban tersebut. Pasalnya ada begitu besar harapan orang-orang dengan munculnya Komodo dalam daftar keajaiban alam dunia, karena dianggap akan meningkatkan citra Indonesia, khususnya Flores atau Labuan Bajo, dianggap akan mendatangkan banyak turis yang serta merta akan memajukan perekonomian Indonesia, perekonomian NTT, Flores dan khususnya kabupaten Manggarai Barat.
Begitu alasannya yang sering saya dengar dan saya baca.
Tapi agak miris juga akan sangat riskan jika yang diperhatikan atau yang menjadi tujuan hanya soal ekonomi semata tapi melupakan salah satu kata yang pada kenyataannya kini jauh lebih memprihatinkan karena hamper dilupakan, yakni ‘Konservasi’. Seperti kata teman saya yang merujuk pada pernyataan seorang ‘ahli komodo’ yang kebetulan WNI, terkait makin sulitnya komodo berkembang biak, bahkan dihabitat aslinya.
Diblognya, http://d33do.blogspot.com/, teman saya Doddy Nai Botha menulis:
“Tapi apakah komodo masih mudah untuk mencari makan?? Inilah fakta menarik yang jarang dibicarakan dan dipedulikan orang-orang awam.. Menurut cerita paman saya: populasi hewan-hewan buruan komodo saat ini hampir NOL..  Kenapa? Yah karena ulah manusia… Komodo harus berebutan makanan dengan para pemburu liar yang masuk keluar TN Komodo secara illegal.. Jumlah mereka sangat banyak, sampai2 para petugas TN Komodo dibekali senjata api untuk menghalau mereka keluar dari area Taman Nasional… Pernah juga paman saya harus melakukan adegan tembak-menembak dan kejar-kejaran layaknya di film2 action Hollywood.. Yang paling menyedihkan adalah nasib si Komo; makan sebulan sekali aja susah, gimana kalau harus makan setiap hari?? Miris…!!
 Semakin hari jumlahnya semakin sedikit, ketersediaan sumber pangan dari binatang karnivora ini juga makin tak jelas. Mengingat dihabitat aslinya binatang ini pun harus ‘rebutan’ makanan dan tinggal berbarengan dengan makhluk asing lainnya bernama manusia! Belum lagi terkait membludaknya manusia-manusia lain bernama pelancong alias turis yang dipastikan akan lebih banyak dan banyak lagi membanjiri TN Komodo. Sudahbisa dipastikan kalau karena alasan majunya ekonomi pariwisata, jika tak hati-hati dan bijak maka akan melanggar ‘hak asasi’ komodo itu sendiri sebagai hewan paling tinggi dalam rantai makanan yang ada di TN Komodo. Bagaimana rantai makanan itu akan hancur karena ada pihak lain yang lebih tinggi, lebih cerdik juga lebih rakus diantaranya yakni manusia?
Ini hampir mirip dengan Borobudur.
sumber: http://presindo2020.blogspot.com
Sempat ada berita Borobudur akan dicabut statusnya sebagai situs warisan dunia oleh Unesco karena makin semrawutnya penataan candi Borobudur. Yah karena alasan ekonomi semata tadi. Akhirnya mengabaikan aspek lain yang rasanya jauh lebih penting, yakni kelestarian situs, ‘kemurnian’ situs, dsb. Karena pada kenyataanya lihat saja kondisi Borobudur. Sangat padat, kotor, bahkan dibangun hotel di dalam kawasan candi, tower-tower telepon selular yang dipasang asal-asalan sehingga merusak pemandangan, tapi lupa untuk menjaga ‘kemurnian’ Borobudur sendiri sebagai salah satu cagar budaya warisan luhur nenek moyang, sebagai warisan terbesar dari saudara kita yang beragama Budha. Tapia pa yang terjadi? Seperti yang kelihatan bahwa aspek ekonomi pariwisata dieksploitasi habis-habisan. Sampai-sampai saya pun harus ikut-ikutan memanjat stupa untuk mendapatkan gambar yang bagus dan lupa bahwa itu adalah tempat ibadah atau tempat pemujaannya sama saudara beragama Budha. Tapi akhirnya saya ikut senang ketika teguran-teguran Unesco berbuah pada kesadaran manajemen pengelola candi yang kini mewajibkan setiap pengunjung menggunakan kain penutup celana atau rok seperti halnya yang sudah dilakukan masyarakat Bali bagi pengunjung yang hendak masuk ke area sakral masyarakat Bali.
Ingat berita peliputan actor Richard Gere saat ke Borobudur belum lama ini?
Ketika Gere sedang khusyuk mengelilingi stupa candid an para wartawan begitu heboh (baca: rebut) melemparkan pertanyaan ke Mr. Gere, sontak ia langsung berujar dengan suara pelan dan senyum lebar, ‘’keep silent, please…” sambil mendekatkan jari telunjuk ke arah bibir.
Itulah wartawan kita. Cerminan dari masyarakat bangsa ini dalam memandang Borobudur.
Kembali ke Komodo, please jangan lupakan konservasi TN komodo. Jangan terlalu berorientasi materi semata bahwa ini momen yang pas untuk menggenjot jumlah pelancong yang datang juga jumlah pemasukan rupiahnya bagi Negara dan masyarakat. Karena akan percuma saja ketika Komodo kemudian hanya akan tinggal nama saja. Kan lucu kalau jadi 7 keajaiban dunia tapi populasi Komodo disana sisa seekor saja? Atau bahkan sudah kosong?
Saya mendukung Komodo dalam ajang ini
Dan berharap dengan kemenangannya, banyak ahli dan relawan juga donatur yang juga care untuk menjaga kelestarian TN Komodo. Juga kita semua warga Indonesia, warga NTT….stop merusak rantai makanan yang sudah terjadi jutaan tahun hingga kini. Stop jadi manusia egois. 

ah, mungkin saya cuma bisa omdo. omong doang! Sikap Anda?

Salam Modo-Modi
SoE, 11 November 2011, ditulis beberapa jam sebelum situs theNew7Wonders mengumumkan 7 keajaiban dunia ‘sementara’, termasuk Komodo di dalam listnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Beta tunggu lu pung komentar di sini, danke...